Kamis, 15 Februari 2018

SALAH KAPRAH DALAM BERDOA

Manusia di ciptakan oleh Allah dalam keadaan yang lemah, disaat mausia mengalami kesulitan atau musibah atau melakukan suatu usaha dengan maksimal akan tetapi belum juga mendapatkan hasil, maka manuasia akan cenderung meminta pertolongan kepada sang penciptanya melalui doa. Doa berasal dari bahasa arab yaitu “ad-du’a” yang artinya permohonan atau permintaan, adapun doa menurut istilah adalah permohonan manusia kepada Allah SWT dengan penuh pengharapan agar tercapai segala sesuatu yang di inginkan dan terhindar dari hal yang tidak di inginkan.
Ada banyak sekali tuntunan doa dalam islam baik yang dicontohkan di dalam Alquran maupun Hadis, baik berupa doa meminta keselamatan, doa agar di hapuskan segala dosa, doa di beri keturunan yang sholih dan masih banyak lagi yang lainya. Para ulama sepakat bahwa doa-doa dalam Alquran sangat baik untuk diamalkan namun ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar doa tersebut sesuai dengan yang dimaksud.
Pertama, banyak doa di dalam redaksi Alquran diawali dengan kata “qul” yang artinya “katanlah atau ucapkanlah atau bacalah”, suatu perintah kepada nabi Muhammad SAW dan kepada kita sebagai hambanya. Dalam berdoa kata “qul” harus kita hilangkan, contohnya “ qul a’udzubirabbil falaq “, nah kalau doa itu kita tirukan dengan apa adanya dan di tujukan kepada Allah. Kalau kata “qul”kita sebut kembali padahal doa itu ditujukan kepada Allah maka sama halnya kita menyuruh Allah untuk membaca doa tersebut, dan hal ini sudah pasti tidak benar.
Kedua, jika kita ingin mengutip potongan ayat dari Alquran harus di tambahkan dengan kata “ qaalallahu ta’ala” atau “qaala t’ala” yang artinya Allah berfirman. Para pembaca tentu sudah tidak asing dengan bacaan berikut :

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ﴿٢٧﴾ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ﴿٢٨﴾ فَادْخُلِي فِي عِبَادِي ﴿٢٩﴾ وَادْخُلِي جَنَّتِي ﴿٣٠﴾
Artinya : “Wahai jiwa yang tenang! (27), Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya (28). Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambak-Ku (29), dan masuklah ke dalam surga-Ku (30).” (Al-Fajr 27-30) (QS al-Fajr [89]: 27-30).

kita sering mendengar potongan ayat tersebut dibaca pada saat mendoakan orang yang telah meninggal, baik acara tahlilan dan sebagainya tanpa di awali dengan qolallahu ta’ala”.
Hal ini adalah kesalahan yang sangat fatal, karena saat kita mengucapkan “ Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambak-Ku “ berarti kita memerintahkan kepada para ruh ( jiwa yang tenang ) menjadi hamba kita dan itu artinya kita memproklamirkan diri menjadi tuhan. Bukankah mengaku sebagai tuhan adalah suatu kedurhakaan yang besar dan termasuk kedalam kemusyrikan?, dan bukankah tempat orang musyrik adalah di neraka?.
Dan ketika kita mengucapkan “dan masuklah ke dalam surga-Ku”berarti berarti kita memerintahkan kepada para ruh ( jiwa yang tenang ) untuk masuk kedalam surga kita. Pertanyaannya siapa kita?, apakah kita punya surga?, bukankah surga dan neraka hanyalah milik Allah semata.
Hasil gambar untuk surat 37 ayat 180 images
Ayat tersebut adalah perkataan Allah SWT kepada hambanya dan hanya Allah lah yang berhak menyerukanya. Jika membacanya adalah dalam rangka membaca Alquran atau “tilaawatil qur’an” maka tidak masalah, akan tetapi jika pembacaan ayat tersebut dalam rangka berdoa maka fatal akibatnya. Bukan doa kita dikabulkan oleh Allah justru akan mendapat laknat dari Allah SWT.
Ketiga, mengubah redaksi doa yang dikutip dari  Alquran saat berdoa bukan berarti mengubah ayat Alquran, contohnya adalah kutipan surat As saffat ayat 180-182 yang sering digunakan untuk menutup doa yaitu :
Hasil gambar untuk surat 37 ayat 180 images
 Artinya:Maha Suci Tuhanmu, Tuhan segala kemuliaan, dari apa yang mereka sifatkan (katakan), dan semoga kesejahteraan terlimpahkan atas para rasul, dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” QS As saffat 180-182.

Jika kita hendak mengutip ayat diatas untuk menutup doa tanpa mengucapkan “ qaalallahu ta’ala” atau “qaala t’ala” maka redaksi doanya harus diubah. Kalau  redaksinya tidak diubah, akan menimbulkan arti yang salah dan fatal akibatnya. Hal ini buka berarti kita mengubah ayat Alquran, karena kita tidak berniat membaca Alquran, tidak berdoa menggunakan ayat Alquran , tetapi kita berdoa menggunakan redaksi yang dicontohkan dalam Alquran.
 Ketika kita mengucapakan “subhaana rabbika “ yang artinya Maha Suci Tuhanmu” dan ucapan itu ditujukan kepada Allah, maka mempunyai arti bahwa Allah mempunyai tuhan dan itu bertentangan dengan sifat Allah, karena Allah sendiri adalah tuhan dan tiada tuhan selain Allah. Sehingga redaksinya harus diubah menjadi “ subhaanaka rabbil izzati amma yaasifuun“ yang artinya  “ maha suci  Engkau wahai  tuhan segala kemuliaan,dari apa yang mereka sifatkan”. Dengan demikian, maksud dari doa tersebut akan tercapai yaitu menyanjung Allah SWT.

Doa merupakan kebutuhan kita sebagai mahluk yang mengharapkan pertolongan dari sang penciptanya,  merupakan bentuk ibadah  kepada Allah dan juga pengharapan akan terwujudnya masa depan yang lebih baik. Oleh karena itu,  kita harus berdoa dengan khusyuk, ikhlas, tulus dan memilih redaksi yang benar agar doa yang kita ucapkan dikabulkan oleh Allah SWT. Sebab redaksi doa yang salah bukan hanya akan menghalangi dikabulkanya doa kita, akan tetapi juga bisa mengundang murka Allah SWT.

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost