Rabu, 16 Maret 2011

ASOKA ( ANTARA CINTA, AMBISI DAN DENDAM )

ASOKA adalah penguasa Kekaisaran Maurya dari 273 SM sampai 232 SM. Seorang penganut agama Buddha, Asoka menguasai sebagian besar anak benua India, dari apa yang sekarang disebut Afganistan sampai Bangladesh dan di selatan sampai sejauh Mysore.

Asoka adalah putra maharaja Maurya, maharaja Bindusara dari seorang selir yang pangkatnya agak rendah dan bernama Dharma. Asoka memiliki beberapa kakak dan hanya satu adik, Witthasoka. Karena kepandaian yang meneladani dan kemampuannya berperang, ia dikatakan merupakan cucu kesayangan kakeknya, maharaja Candragupta Maurya. Maka seperti diceritakan dalam bentuk legenda, ketika Candragupta Maurya meninggalkan kerajaannya untuk hidup sebagai seorang Jain, ia membuang pedangnya.pedangnya itu adalah bukan pedang biasa melainkan pedang durjana. Dikatakannya, bila pedang itu dikeluarkan dari sarungnya, maka ia akan meminta darah, tidak kenal lawan dan kawan, dan hanya darah saja.Asoka kecil yang keras kepala itu tidak menghiraukan peringatan kakeknya. Ia memungut kembali pedang pusaka yang telah dilemparkan oleh kakeknya itu dari sela-sela batu sebuah sungai.

Maka sementara ia berkembang menjadi seorang prajurit ulung yang sempurna dan seorang negarawan lihai, Asoka memimpin beberapa regimen tentara Maurya. Popularitasnya yang naik di seluruh wilayah kekaisaran membuat kakak-kakaknya menjadi cemburu karena mereka cemas ia bisa dipilih Bindusara menjadi maharaja selanjutnya.
 Kakaknya yang tertua, pangeran Susima, putra mahkota pertama, membujuk Bindusara untuk mengirim Asoka mengatasi sebuah pemberontakan di kota Taxila, di provinsi barat laut Sindhu, di mana pangeran Susima adalah gubernurnya. Taxila adalah sebuah daerah yang bergejolak karena penduduknya adalah sukubangsa Yunani-India yang suka berperang dan juga karena pemerintahan kakaknya, pangeran Susima kacau. Oleh karena itu dalam daerah ini banyak terbentuk milisi-milisi yang mengacau keamanan. Asoka setuju dan bertolak ke daerah yang sedang dilanda huru-hara.
Maka ketika berita bahwa Asoka akan datang menjenguk mereka dengan pasukannya, ia disambut dengan hormat oleh para milisi yang memberontak dan pemberontakan bisa diakhiri tanpa pertumpahan darah. (Provinsi ini di kemudian hari memberontak lagi ketika Asoka memerintah, namun kemudian ditumpas dengan tangan besi).
Keberhasilan Asoka membuat kakak-kakaknya semakin cemas akan maksudnya menjadi maharaja penerus, maka hasutan-hasutan Susima kepada Bindusara membuatnya membuang Asoka. Asoka kemudian pergi ke Kalinga dan menyembunyikan jatidirinya.

Pada dasarnya, Asoka sendiri bukanlah orang yang berambisi merebut takhta., meski kehandalannya dalam beperang mensyaratkan bahwa ia pantas sebagai raja. Ia bahkan mengabulkan permohonan ibunya untuk meninggalkan negerinya dan menjadi orang biasa agar terhindar perselisihan dengan saudara-saudaranya.Ibunya tak menginginkan terjadinya perebutan takhta dengan Sushima. “Kamu tak mau anak kamu menaiki takhta. Aku lakukan semua ini untuk kamu,” ujar Asoka yang juga ingin menghindari konflik memperebutkan takhta Magadha dengan Sushima dan saudara-saudara tirinya yang lain. Asoka pun pergi meninggalkan Magadha.
Namun, nasib ternyata membawanya lain. Dalam perjalanan ke luar kerajaannya, ia bertemu dengan seorang pertapa yang meramalkan tentang nasib dirinya dan perjalanan hidupnya.“Nasib kau adalah lebih baik dari sang raja.” Maksud, ramalan pertapa terhadap diri dan kehidupannya itu adalah bahwa Asoka akan menjadi seorang raja yang lebih baik dari raja biasa, bisa menjadi raja dari segala raja, raja besar serta mengalami drama kehidupan yang besar pula.Di tengah pengembaraannya itulah ia berjumpa dengan Kuurwakhi, yang disebutnya sebagai satriani Kalinga, perempuan satria dan kerajaan Kalinga. Mereka kemudian saling jatuh cinta, 

Namun keadaan harus memisahkan mereka berdua.Sebelum berpisah, Asoka sempat mengajarkan Kuurwakhi ilmu pedang. “Jadikanlah pedangmu bagian dari tubuhmu, maka penantian dan ketakutan akan tiada lagi,” bisik Asoka, diantara pipi Kuurwakhi yang memerah dan senyum kepedihannnya.Cinta yang mempertemukan mereka, dan cinta jua yang memisahkan mereka. Kelak pada akhirnya dengan cinta pula kedua negeri mereka yang saling bertempur bersatu kembali.
Di tengah-tengah kisah percintaan mereka terselip Devi yang secara tidak sengaja hadir dalam kehidupan Asoka, diperisteri Asoka. Perempuan dari kalangan beragama Buddha ini berani berhadapan dengan kebengisan Asoka yang timbul karena frustrasinya tidak mendapatkan Kuurwakhi.Kehadiran Devi yang tidak disengaja dalam kehidupan Asoka inilah yang melahirkan putra-putri Asoka, yang akhirnya menjadi utusan-utusan dharma menyebarluaskan Buddhadharma.
Kisah cinta Asoka dan Kuurwakhi yang kandas oleh perpisahan dan tipu daya intrik kerajaan pada akhirnya dapat dipertemukan kembali namun di medan laga yang menghadapkan mereka satu sama lain sebagai satria yang saling berlawanan.

Setelah Sushima terbunuh, dan mengingat keadaan kerajaan yang membutuhkan orang kuat seperti dirinya, maka endapan ambisi besar Asoka yang selama ini tersimpan akhirnya tak terhankan lagi.Endapan berkuasa itu meletus bagai magma gunung berapi yang memuncratkan laharnya dan menjdikannya haus kekusaan.
Melalui pedang pusakanya yang berkelabatan kesana kemari, ia mengalahkan musuh-musuhnya dari satu medan pertempuran ke medan pertempuran lainnya. Dan nasib pun seakan membawanya memenuhi ramalan kekeknya, setiap pedang keluar dari sarungnya pasti meminta darah, maupun ramalan sang pertapa untuk menjadi raja besar.
Seakan memang suratan nasih telah menggariskannya menjadi seorang raja besar yang ditakui melalui peperangan yang selalu meminta darah dari setiap pedangngnya yang keluar dari sarungnya, Asoka pun menjadi raja besar dan mendapat julukan Asoka yang durjana. Asoka durjana karena telah membunuh kakak-kakaknya, serta menaklukkan lawan-lawannya dalam berbagai pertempuran.“Aku akan menjadi raja yang teragung di bumi ini. Lebih agung dari raja Bidursana dan lebih kuat dari Chandragupta Maurya.” Demikian ikrar Asoka dihadapan isterinya, Devi.
Isterinya yang sabar, penuh cinta namun berani itu pun berkata; “Ini cinta jenis apa yang hidup walau sudah mati. Kuurwakhi saja yang ada di hatimu. Luka cinta tak akan biarkan kamu hidup atau mati.”Devi sadar, ambisi dan kebengisan Asoka itu muncul lantaran cintanya tak kesampaian dengan Kuurwakhi, atau sebagai kompensasi kehilangan Kuurwakhi – pewaris takhta Kalinga- yang disangkanya telah tewas dalam intrik politik pejabat istana Kalinga
Raja Asoka dinilai sungguh luar biasa kejamnya. Bahkan orang-orang menyangsikan apakah dia itu manusia atau setan, karena Asoka berani membunuh orang yang tidak bersalah, dan sanggup melakukan apa saja untuk memenangkan perang. Berita tentang Kuurwakhi yang telah tewas diangkatnya menjadi sumber kekuatan untuk kematian bagi orang-orang yang ada disekelilingnya, terutama lawan-lawannya.
Isteri dan saudara-saudaranya, bahkan Vitar pengawal setianya menolak dan menghindari Asoka. Bahkan isterinya tak menghendaki anaknya menjadi seperti ayahnya. “Saya harap bila anakku membuka matanya dia tengok kasih sayang saja dan bukan kematian. Perkataan pertama yang dia dengar mestilah sesuatu yang manis, dan bukan pekikan dan raungan kesakitan.”
Devi, isterinya yang penyabar dan penuh kasih sayang dan tahu dirinya tak mendapatkan cinta Asoka, akhirnya meniggalkannya. Tiada lagi teman dekat dan setia di samping Asoka.Vitar yang sudah berusaha mengembalikan Asoka ke jalan yang benar juga tidak sanggup dan harus dengan berat hati meniggalkan Asoka. Sebelum pergi, kepada Raja Besar Asoka yang telah mata gelap itu, Vitar mengatakan: “ Kamu bukan kawan siapa-siapa.”
Sedangkan adik Asoka sendiri Vitasoka yang penyair mengatakan: “Kau adalah musuh dirimu sendiri. Karena itulah kau dipanggil “durjana” Asoka. Aku beritahu, bahwa kau sudah jadi seroang ayah. Mahendara adalah anak lelaki kamu, dan Sanghamitra adalah anak perempuanmu. Kamu hanya seorang raja, bukan seorang ayah.”
Tapi Asoka tetap bersikeras menganggap dirinya sebagai raja besar, yang besar karena peperangan dan penaklukkan. Cinta telah tidak ada lagi dalam kamus hidupnya sejak panglima Kuurwakhi yang jealous kepadanya memberi tahu bahwa Kuurwakhi telah tewas dalam intrik istana Kalinga.
Yang tersisa dalam diri Asoka adalah kebalikannya dari cintanya yang besar, yakni ambisi yang besar untuk menjadi raja besar, sebagai kompensasi cinta besarnya yang dianggapnya telah hilang dan telah tak kembali.“Kebenaran tidak akan berubah jika menukar pendirian. Perang adalah kebenaran. Dalam perang menang atau mati. Dan aku telah menang,” demikian Asoka berkilah dihadapan adiknya, Vitasoka.“Ya, memang kau telah menang. Memenangi tangisan bayi, anak yatim dan mayat. Kau telah menang semuanya,” ucap Devi sesaat sebelum meninggalkannya.
 
Begitu pula ketika Asoka bertemu kembali dengan Kuurwakhi, satriani Kalinga – yang  ternyata masih hidup - namun dalam keadaan berhadapan satu sama lain di medan perang yang bau amis mayat, Kuurwakhi menyatakan. “Kau telah jatuh diatas kekayaan, kuda yang cantik dan kuat. Kau tidak menang. Aku tidak akan benarkan kau menang.”Di antara temaram senja yang datang, di saat-saat matahari akan terbenam, dan denting suara mantram para bhiksu yang sedang menyucikan mayat-mayat korban pertempuran yang berserakan di medan lagi, serta di dalam dekapan cinta dan kerinduan terhadap Kuurwakhi, akhirnya Raja besar gagah berani yang telah menaklukkan ribuan musuh dalam berbagai medan laga itu pun merintih.
“Aku telah menjadi raja yang teragung. Pemerintah yang terkuat. Aku telah memenangi semuanya. Aku juga telah hancurkan semuanya. Apa yang aku dapatkan sebagai seorang raja? Cuma kekayaan, tanah dan negara, rumah-rumah yang terbakar dan mayat-mayat yang bergelimpangan di mana-mana.
Asoka telah menjalani nasibnya sebagai raja besar melalui berbagai peperangan. Peperangan sebagai kompensasi cintanya yang tak terwujud terhadap seorang perempuan satria. Namun ketika cinta itu diketemukannya kembali, Raja itu kembali menjadi besar, bukan besar karena peperangan, tapi sebaliknya besar karena kasihnya.Asoka telah belajar dari peperangan dan pertempuran yang dijalaninya, serta dari kekuatan cinta kasih. Bahwa kekerasan dan kekerasan adalah lantaran tak ada cinta dihati seseorang. Ketika cinta itu datang, maka kekerasan pun sirna. Memang semua membutuhkan cinta dan cinta pula yang menyembuhkan semua.
Maharaja Asoka memerintah selama 41 tahun, dan setelah mangkatnya, dinasti Maurya masih bertahan selama lebih dari 50 tahun. Asoka memiliki banyak selir dan anak, namun nama-nama mereka tidaklah diketahui. Mahinda dan Sanghamitta adalah anak kembar yang dilahirkan istri pertamanya, Dewi di kota Ujjayini. Ia mempercayai mereka untuk menyebarkan agama Buddha di dunia yang dikenal dan tak dikenal. Mahinda dan Sanghamitta pergi ke Sri Lanka dan memasukkan Raja, Ratu dan rakyatnya agama Buddha. Mereka lalu berkeliling dunia sampai ke Mesir dunia Helenistik (Yunani). Sehingga mereka tidak bisa melaksanakan kewajiban pemerintahan. Beberapa arsip langka membicarakan penerus Asoka bernama Kunal, yang merupakan putra Asoka dari istri terakhirnya.
Kata-kata Asoka sendiri seperti diketahui dari piagam-piagamnya adalah: "Semua orang adalah anakku. Aku seperti ayah mereka. Seperti seorang ayah menginginkan kebaikan dan kebahagian untuk anaknya, aku ingin supaya semua orang selalu bahagia." Edward D'Cruz mentafsirkan dharma maharaja Ashoka sebagai "agama yang dipakai sebagai lambing dari sebuah persatuan kekaisaran dan semuah semen perekat untuk mempersatupadukan unsure-unsur heterogen dan berbeda-beda kekaisaran ini".



 ARTIKEL LAINYA :

1 komentar:

Cerita Hantu mengatakan...

Seru film asoka jadi inget masa muda dulu :)

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost